Bun Bun Baozi [Oneshot] FF

Author: ethelisao

Cast: Xiumin, Chen, Luhan, Tao, Kris, Lay, Lee Soo Rim(OC), Choi Ha Sun(OC), Kai

Genre: Family, Life, Romance(?), Comedy(?)

Length: Oneshot

A/N: Xiumin sedikit stress dengan pipinya. Dibikin galau juga. Ceritanya disini member exo-m pada ngekos bareng ya (baca: ngontrak). Mereka bukan artis, Cuma manusia biasa dan enggak punya kekuatan apa-apa. Siip, happy reading!

***

“Pipi pipi mengapa kau begitu besar… la la la…” Nyayi Xiumin dalam hatinya sambil memencet-mencet pipinya yang sebesar bola kasti. Ia memanyun-manyunkan bibirnya sambil menggembungkan pipinya yang kali ini menjadi sebesar bakpau.

“Hmmm imut sih, tapi pipi ini membuatku terlihat gemuk dan pendek. Huuh” Pikir Xiumin sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Woi Baozi lagi ngapain lo ngaca-ngaca? Percuma, lo tampar-tampar juga gabakalan tirus tuh pipi!” Kata Tao sambil mencubit pipi Xiumin.

Xiumin mendorong Tao, “Ah rese lu, nanti tambah gede nih pipi gw! Jauh-jauh lu dari gw! Jangan deket-deket!”

“Cieeee takut ketauan pendeknya yaaa… hahaha” Ledek tao sambil cekikikkan. Xiumin lalu keluar dari kamarnya dan membanting pintu kamar dengan kesal. Sedangkan Tao semakin cekikikkan dikamar.

“Sialan si Tao. Mentang-mentang tinggi suka gak sopan sama yang tua! Lagian kenapa tinggi gue ngepas gini sih? Padahal kan gue rajin makan-makanan bergizi trus minum susu sehari tiga kali. Tapi kenapa tingginya nggak nambah-nambah?!” Xiumin lalu berjalan ke dapur. Ditemukannya Lay yang sedang memasak.

“Lo lagi masak apa Lay?”

“Ini, gue lagi nyoba bikin soto padang,” Sahut lay sambil memotong-motong daging.

“Soto padang? Makanan apaan tuh? Emang enak?” Tanya Xiumin penasaran.

“Enak banget! Ini masakan Indonesia Zi. Kemaren gue makan ini di warung padang depan kantor gue. Trus gue nyoba nyari-nyari resepnya di internet. Gampang ternyata bikinnya.” Kata Lay lagi.

“Trus kapan tuh matengnya? Gue laper nih”

“Lo mending jangan makan itu Zi, nanti pipi lo makin menggembung! Hahaha” Tao yang datang mengacaukan suasana dapur.

Xiumin yang masih kesal dengan Tao, melempari Tao dengan tomat dan bihun juga garpu. Yang dilempari hanya mengeles karna tidak ada satupun lemparan Xiumin yang kena. Sementara itu sebuah kepala sudah mengepulkan asapnya dan berteriak, “Tao!!! Xiumin!!!” Ternyata itu kepala Lay yang merasa terganggu keasyikannya memasak.

Xiumin berhasil kabur, tetapi betapa malangnya Tao karna ternyata Lay sudah mencekik lehernya dengan serbet warteg, “Lo mau beresin dan bantuin gue masak atau lo yang mau gue masak?”

“Ampun hyung, iya gue bantuin lo masak deh..” Kata Tao sambil memasang tampang memelas.

“Gausah masang tampang begitu! Percuma! Gak ngaruh. Gue bukan Kris!” Bentak Lay. “Cepet beresin!” Kata Lay lagi.

“Rasain lu!” Sorak Xiumin dari balik pintu dapur sambil menepuk-nepuk pantatnya ke arah Tao. “Ah, gue lapeeeerr… Tapi kalau gue makan, nanti pipi gw ini makin menggembul, tapi gue lapeeeer…” Galau Xiumin. Lalu iapun kembali kekamarnya, mengambil iPodnya dan mendengarkan lagu kesukaannya, MAMA YUKERO.

Xiumin memejamkan matanya lalu menggerak-gerakan kepalanya kekiri dan kekanan mengikuti irama lagu. Tetapi tak lama kemudian ia mencium sesuatu. “Wangi apa ini? Sedap. Seperti campuran telur dadar… Hmmmm…. ” Xiumin lalu membuka matanya. Dilihatnya Luhan baru saja datang dengan membawa tentengan kantung plastik. (Hebatnya Xiumin, bisa mencium bau makanan dari jarak yang sangat jauh)

Xiumin lalu menghampiri Luhan. “Lo bawa apaan Han? Wangi bener..”

“Ini tadi gw liat didepan kosan ada yang jual martabak. Gw beli aja pengen nyoba kaya apa sih rasanya.” Jawab Luhan. Lalu Luhan membuka bungkusan yang dibawanya di atas meja.

“Wah, wanginya enak. Ini makannya gimana Han? Kok ada airnya gini?” Tanya Luhan sambil menunjuk plastik berisi air berwarna coklat. “Yang ini acar gitu ya?” Kali ini Xiumin menunjuk potongan-potongan timun dan wortel.

“Iya, kata abang-abang yang jualnya, ini makannya kaya sushi gitu dicelup-celupin ke air yang ini.” Luhan mengambil mangkuk kosong yang ada di atas meja lalu menuangkan air coklat itu. “Nih lo cobain Zi.” Xiumin mencoba sepotong martabak yang dia celupkan ke air coklat. “Gimana? Enak gak?”

Xiumin hanya mengangguk dan matanya menerawang. “Gila, enak banget. Ini yang bikin jenius banget. Bisa-bisanya makanan yang dicampur air kotor begini jadi nikmat.” Xiumin lalu mencomot dan mencomot martabak lagi sampai yang kelima kalinya ia tersadar, “Ah sial, gue kan gaboleh banyak makan, nanti makin gembul nih pipi.” Xiumin lalu pergi ke luar meninggalkan Luhan yang masih terpesona oleh rasa martabak dan air kotor.

Diluar Xiumin melihat banyak sekali warung-warung berisikan jajanan-jajanan enak. Dari mulai bakso, siomay, kue-kue, sampai ia melihat pipinya sendiri di warung(baca: bakpao). Tepat didepan kedai bakpao tersebut Xiumin terpana, bukan karna bakpao, tapi yeoja cantik yang sedang melayani pelanggan. Tanpa berpikir panjang Xiumin masuk ke kedai tersebut.

“Annyeohaseo, mau beli apa?” Tanya si yeoja cantik.

Xiumin membaca name tag yeoja itu, Lee Soo Rim. “Saya ingin bakpao kacang merah dan bakpao daging.” Lalu Soo Rim mengambilkan pesanan Xiumin dan menyebutkan harganya. Xiumin lalu membayarnya.

“Terimakasih. Datanglah lagi.” Kata Soo Rim sambil tersenyum.

“Pasti, aku pasti akan datang kembali!” Batin Xiumin penuh semangat sambil berjalan dan tersenyum ke arah Soo Rim. Lalu….

BRUUUK!!!!

“Auw!” Xiumin menabrak pintu kaca didepannya.

Seorang lelaki yang mengenakan seragam pegawai di kedai itu menghampiri Xiumin. “Apa kau tidak apa-apa tuan?” katanya pada Xiumin.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.” Xiumin malu lalu pergi dari kedai itu.

Xiumin berjalan pulang ke kosan. Ternyata disana semua penghuni kosan sudah berkumpul untuk makan malam.

“Lo kemana aja Bao? Kenapa gak bawa ponsel? Tao cemas tuh nyariin lo, dia takut lo bunuh diri gara-gara dia udah ngeledekin lo tadi.” Kata Lay begitu melihat Xiumin masuk.

“Gue gak kemana-mana. Cuma beli bakpao.” Jawab Xiumin cuek.

“Hiks… Hiks… Baozi gege… Apa gege marah padaku? Aku minta maaf gege… Aku hanya bercanda. Hiks” Kata Tao sambil menangis.

“Enggak. Gue gak marah. Cuma sebel ngeliat muka lo.” Jawab Xiumin.

“Huuuaaaa… Kris gege bagaimana ini… Baozi gege sebal dengan mukaku…” Rengek tao sambil mengguncang-guncangkan meja makan.

“Tao diam!” Yang disuruh diam langsung diam ketika Kris bicara. Lalu kris mengambil paper bag yang ada dan membuat dua lubang lalu memasukan kepala Tao kedalam paper bag itu. “Nah, dengan begini Baozi tidak akan sebal lagi melihatmu.” Kata Kris puas dilanjutkan dengan sedikit senyum dibibir Xiumin.

“Kris gege, kau jahat.” Bisik Tao.

“Aku apa?” Tanya Kris lagi.

“Kau baik sekali Kris gege.” Ulang Tao sambil memanyunkan bibirnya tetapi tak ada seorangpun yang dapat melihat manyunnya Tao karna paper bag yang menghalangi ketampanannya.

“Ya, sekarang semua sudah berkumpul. Mari kita makan.” Kata Luhan akhirnya. “Lo masak apa ini Lay?”

“Soto padang.” Jawab Lay sambil menyendoki piring ‘anak-anaknya’.

“Oh iya, Chen kemana?” Tanya Xiumin yang baru sadar dia tidak melihat Chen di meja makan.

“Chen pergi menjemput pacarnya. Mungkin sebentar lagi dia sampai.” Kata Lay.

TING TONG.

“Biar gue buka.” Kata Xiumin.

“Emangnya pintu lo kunci Zi?” Tanya Kris.

“Iya. Gue takut ada maling yang mau nyuri bakpao yang gue bawa.” Semuanya langsung menggelengkan kepala mendengar jawaban Xiumin, dan hanya Tao yang menahan tawa mendengar jawaban Xiumin.

Xiumin berjalan kedepan dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya dia ketika ternyata yang berada didepan pintu adalah Chen dengan yeoja cantik dikedai bakpao tadi! Lee Soo Rim!

“Kau…” Kata Xiumin kaget ala sinetron.

“Apakah kau mengenalnya?” Tanya Chen.

“Tidak.” Jawab Xiumin cepat. “Ah sial, dia tidak ingat!” pikir Xiumin. “Ayo masuk. Semua sudah mulai makan.” Kata Xiumin lagi.

Lalu Chen membawa masuk Soo Rim dan Xiumin diam sesaat dan kemudian mengikuti mereka kedalam dengan sedikit kecewa.

“Ya, semuanya kenalkan, ini Lee Soo Rim, pacar gue.” Kata Chen memperkenalkan pacar barunya. “Soo Rim, kenalin itu yang pirang dengan wajah sok cool namanya Kris. Itu yang rambut coklat dengan wajah keibuan namanya Lay. Yang pirang satu lagi muka imut-imut tapi aslinya tua namanya Luhan. Yang tadi bukain kita pintu namanya Xiumin, tapi biasa dipanggil Baozi.”

“Baozi?” Soo Rim heran.

“Iya karna pipinya itu loh. Unyu unyu minta dicubit. Hahaha” Luhan mencairkan raut muka Xiumin. Xiumin hanya tersenyum mendengarnya.

“Dan itu satu lagi yang ditutupin paper bag namanya Tao.” Kata Chen lagi.

“Kenapa mukanya ditutupi?” Soo Rim berbisik kepada Chen.

“Pasti dia baru saja membuat masalah makanya ditutupi.”

Tao yang mendengar penjelasan Chen langsung membuka paper bag yang menutupi kepalanya.

“WAAAAA!!!!”

“Kamu kenapa Soo Rim?” Kata Chen cemas melihat Soo Rim berteriak histeris.

“I-Itu mukanya seram sekali…” Kata Soo Rim sambil menunjuk Tao.

“Huahahahaahhahahaaha” Serempak, semua orang di ruangan itu langsung tertawa kecuali Soo Rim yang masih ketakutan dan Tao yang terlihat merenggut dan memanyunkan bibirnya.

***

Pagi ini Xiumin masih terlihat sedih melihat cermin yang selalu menampakkan pipi bulatnya. Ia mencubit, lalu menepuk, kemudian mencubit dan menepuk pipinya lagi.

“Lo ngapain Bao?” Chen yang baru masuk kekamar Xiumin heran melihat Xiumin mencubit-cubit pipinya sendiri. “Sakit gigi ya Bao?” Tanya Chen lagi.

“Enggak kok. Gue Cuma heran kenapa gue tuh imut banget ya.” Sahut Xiumin cuek.

PLETAK. Chen melempar Xiumin dengan sikat giginya.

“Lo ngapain sih? Dateng-dateng rusuh lu kaya Tao!” Teriak Xiumin.

“Lagian narsis banget lu.” Chen mengambil kembali sikat gigi yang dilemparnya barusan.

“Eh iya Chen,”

“Hmmm?”

“Lo kapan jadian sama Soo Rim?”

“Baru 3 hari. Kenapa?”

“Gak papa.” Xiumin keluar kamar membawa handuknya.

Ceritanya Xiumin mau mandi dulu jadi kita lihat apa yang sedang dilakukan Soo Rim di kedai bakpao.

“Annyeohaseo, mau pesan apa?” Sapa Soo Rim kepada pelanggan. Dan si pelanggan menyebutkan pesanannya. “Baik, dua bakpao jamur dan satu bakpao strawberry, jadi Rp. 26.000,-“ si pelanggan membayarnya dan mengambil pesanannya.

“Soo Rim!” Seorang lelaki tampan yang memakai seragam kedai memanggilnya.

“Ah ya, Kai. Tunggu sebentar,” Katanya sambil melambaikan tangan kepada lelaki yang bernama Kai itu. “Ha Sun eonni, bisakah kau menggantikanku sebentar?” Tanyanya pada wanita cantik disebelahnya.

“Ah ya tentu saja, kau ingin pergi dengan Kai?”

“Ya, pekerjaannya sudah selesai. Kami ingin pergi jalan-jalan. Terimakasih eonni. Oia, eonni, jika Chen datang mencariku bilang saja aku sedang pergi belanja dengan pemilik kedai ya.” Soo Rim mengedipkan matanya lalu berlari keruang ganti dan mengganti pakaiannya. Kemudian pergi dengan Kai.

“Dasar cewek cantik. Bukankah kemarin dia baru saja pergi bersama Chen? Kukira dia sudah selesai dengan Kai, nggak tahunya… huuh”

Oke, karna Xiumin sudah selesai mandi, sekarang kita balik melihat Xiumin.

“Lay,  lo mau masak apa siang ini?” Tanya Xiumin yang baru keluar dari kamar mandi.

“Maaf Baozi… gue gabisa  masak nih, ada meeting mendadak di kantor. Jadi gue harus kesana sekarang. Lo kalau mau makan bikin indomi aja ya.” Lay memakai mengancingkan kemejanya dan memakai dasinya dengan cepat.

“Kris mana, Lay?”

“Dia masih ngajar lah disekolah. Ini kan hari rabu Zi.”

“Oh iya ya gue lupa. Si Tao juga masih sekolah ya.”

“Tumben lo nyariin Tao. Bukannya paling benci sama itu bocah? Hahaha” Yang disindir hanya memanyunkan bibirnya. “Gue berangkat ya Zi, Jangan lupa kunci pintu ya.” Lay lalu pergi ke kantor dengan mengendarai sepedanya.

“Lay Lay… Gaji udah gede masih aja naik sepeda ke kantor. Ckckck” Batin Xiumin. “Ah bete banget deh qlo jadwal kosong. Kuliah baru mulai minggu depan. Si Luhan sibuk ngeMOSin anak baru. Masa gue bengong doang dirumah sendirian? Mending jalan-jalan keluar ah nyari makan”

Xiumin kemudian pergi jalan-jalan sendirian (ada yang mau nemenin?). Tak terasa jauhnya ia berjalan kaki. Ia sampai pada kedai bakpao tempat Lee Soo Rim bekerja. Iapun memasuki kedai itu. Tapi tak dilihatnya Soo Rim disana.

“Annyeohaseo, ingin pesan apa?” Tanya pegawai kedai.

“Ehmm, satu bakpao kacang merah dan bakpao daging.”

“Totalnya jadi Rp. 27.000,-“

Xiumin lalu membayarnya dan dengan ragu dia berkata, “Permisi mbak, Soo Rim nya ada enggak ya?”

“Soo Rim?”

“Iya yang biasanya jaga disini.”

“Ah ya, dia pergi bersama Kai.”

“Kai?”

“Iya, Kai pacarnya.”

“Pacarnya?”

“Ah, maaf tuan. Pelanggan yang dibelakang anda sepertinya sudah tidak sabar.”

“Ah ya mian.” Kata Xiumin kepada pelanggan yang dibelakangnya dan segera pergi meninggalkan kedai itu. “Apakah Soo Rim dan Chen sudah putus? Tapi masa secepat itu. Bukankah hubungan mereka baru berjalan beberapa hari? Kai? Siapa pula laki-laki itu?”

Xiumin berjalan sambil berfikir. Ia kemudian menelepon Chen.

“Yoboseo?” Jawab Chen diseberang.

“Lo lagi dimana?”

“Gue lagi warung Pakde Bakso nih sama Luhan.”

“Wah lu makan bakso gak ngajak-ngajak. Yauda jangan kemana-mana. Gue kesana.” Xiumin menutup telepon. Lalu memberhentikan angkot yang lewat dan menuju warung Pakde Bakso.

Karna Xiumin masih diangkot, kita lihan Luhan dan Chen.

“Siapa yang barusan nelepon Chen?” Tanya Luhan.

“Itu si Baozi. Mau kesini katanya.”

“Wah ketauan dong kita makan berdua doang enggak ngajak-ngajak dia.” Luhan memotong, menggigit, dan mengunyah baksonya.

“Yah, mau gimana lagi. Gue kasian qlo ngajak dia makan bakso. Nanti abis makan bakso pasti dirumah langsung teriak-teriak: ‘Help! Lemak gue bertambah! Tolong’ dengan muka histerisnya itu. Jadi mendingan gausa ngajak dia kan.” Chen menyeruput kuah baksonya pakai sedotan.

Luhan menelan baksonya. “Iya juga sih ya. Kasian tuh anak, gampang banget gemuk.”

Gak lama, Xiumin sampai ke warung Pakde Bakso.

“Wah curang luh ya pada makan gak ngajak-ngajak.”

“Tenang aja Baozi, lu pesen gih. Gue yang bayar.” Kata-kata Luhan terdengar sangat merdu dikuping Xiumin.

“Wiiiih asik. Lu abis dapet lotere ya?” Xiumin menepuk bahu Luhan lalu berteriak, “Pakde, Baksonya satu ya! Campur. Gak pake seledri.”

“Bukan Zi, tadi si Luhan abis malakin mahasiswa baru tuh dikampus, menang banyak dia. Juniornya dimintain duit dulu qlo mau tanda tangannya! Gile gak tuh pinternya.” Chen menjelaskan, yang dijelasin mengangguk-angguk dengan mata berbinar-binar. Terpesona oleh kepintaran Luhan. “Oia Zi, lo ngapain nyariin gue tadi?” Tanya Chen lagi.

“Entar dulu deh. Gue mau nikmatin bakso dulu.” Xiumin lalu memakan baksonya yang baru saja datang. Setelah selesai Chen kembali menagih pertanyaannya.

“Gini loh Chen, cewek lo si Soo Rim kerja di kedai bakpao depan rumah sakit Kartini kan?”

“Iya, kok lo tau?” Chen menyeruput kembali kuah baksonya yang kini sudah ditambahi sedikit es.

Xiumin yang melihat kelakuan Chen bergidik ngeri. “Dulu inget kan pas gue bukain lo pintu, gue sempet kaget? Nah itu pas sorenya gue abis beli bakpao di tuh kedai. Eh cewek lo yang ngelayanin gue.”

“Ooooh,” Chen mengangguk-anggukan kepalanya, “Terus?”

“Tadi gue ke kedai bakpao itu lagi…”

“Nyariin cewek gue?” Potong Chen.

“Iya! Eh bukan! Gue sepik nanya aja gitu. Trus tau gak kata pelayannya apa?”

“Apaan?” Kali ini Luhan yang terlihat antusias.

“Katanya, cewek lo pergi ama pacarnya Kai. Emang nama lo udah ganti Chen?”

Seperti kisah-kisah yang lainnya, Chen tersedak kuah bakso. “Uhuk Uhuk!” Iapun lalu meminum jus jeruknya. “Lo serius Bao?”

“Iya. Katanya tuh pelayan begitu kok. Nah tuh dia pelayannya.”

“Ayah, aku pulang.” Terdengar suara cewek cantik yang memanggil si Pakde Bakso dengan sebutan ‘Ayah’.

“What? Cewek secantik itu anaknya tukang bakso?” Kali ini Luhan yang kaget, nyaris saja ia menelan mangkuk baksonya.

Xiumin menghampiri cewek itu, “Maaf, bisa bicara sebentar?”

“Eh, Kau kan…”

“Iya aku yang tadi ke kedai bakpao. Xiumin.” Xiumin mengulurkan tangannya, “Dia ingat kepadaku!”

“Choi Ha Sun.” Katanya lalu membalas uluran tangan Xiumin. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Katanya lagi.

“Mungkin lebih baik kita bicara disana saja.” Xiumin menunjuk tempat dimana kedua temannya berada.

“Oh, baiklah kalau begitu.” Xiumin mengajak Ha Sun duduk bersama Luhan dan Chen.

Setelah perkenalan singkat mulailah integorasi Chen kepada Ha Sun.

“Lo yakin itu pacarnya Soo Rin?” Tanya Chen lagi yang ketiga kalinya.

“Iya mereka udah jadian lama kok. Kai itu kan anaknya pemilik kedai. Aku udah kerja disana enam bulan. Dan aku sudah melihat mereka dekat sejak dua minggu Soo Rim bekerja disana.” Jawab Ha Sun.

“Soo Rim kerja disana udah tiga bulan,” Pikir Chen. “Jadi mereka pacaran sudah sekitar bulan??!”

Ha Sun terlihat berfikir lalu berkata, “Ya sepertinya begitu.”

Chen mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, lalu mendial nomor Soo Rim.

“Kau dimana?”

“Bersama Kai?”

“Oke kalau begitu kita putus. Bye.” Chen memutuskan sambungan teleponnya.

“Whaaaaattt??” Xiumin terlihat seperti tidak percaya.

“Kenapa lo?” Kata Chen tanpa ada perasaan sedih sedikitpun.

Xiumin masih terpana. “Lo segampang itu bilang putus?”

“Yah, baru pacaran bentar ini. Gampang-gampang aja sih buat gue. Daripada kelamaan mendingan langsung aja gitu.” Sahut Chen tidak perduli. “Han balik yuk.”

“Ayuk.” Luhan membayar makanan mereka semua lalu pergi bersama Chen dengan motornya. Xiumin yang ditinggali sendiri hanya melongo melihatnya. Ha Sun tertawa melihat Xiumin.

“Kau menertawaiku?” Kata Xiumin.

“haha kau lucu. Hahaha” Katanya masih tertawa.

“Apanya yang lucu?” Tanya Xiumin lagi heran.

“Pipimu yang bulat. Kau mangap seperti itu seperti ikan yang suka menggembung dan punya banyak duri-duri itu. Lucu.” Katanya lagi sambil tersenyum.

“Maksudmu seperti ini?” Xiumin menggembungkan pipinya.

“Ya ya seperti itu. Haha Aku suka melihatmu masuk ke kedai dan membeli bakpao kacang merah..” Seketika Ha Sun menutup mulutnya.

“Kau memperhatikanku?”

“Ah, tidak. Maksudku…”

“Kau ingin menjadi wanitaku?” Pertanyaan Xiumin membuat Ha Sun membelalakan matanya. “Ehm, maksudku, apakah kau ingin menjadi pacarku?” Kata Xiumin lagi.

Tanpa menunggu lama, Ha Sun segera menjawab, “Ya. Aku mau.”

Mereka berduapun tersenyum. Warung bakso saat itu terlihat indah dengan senyuman mereka.

“Bun, ternyata kau membawa kebahagiaan untukku Bun. Terimakasih Bun.” Batin Xiumin kepada pipinya.

*END*

Oke sekian cerita Baozi unyu nya. Thank’s for read.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s