After Concert [Oneshoot] FF

 

Author: ethelisao

Tittle: After Concert.

Cast: Tao, Lisa(OC), Chen.

Other Cast: Arin(OC), Fandi(OC).

Genre: Romance.

Length: Oneshoot

A/N: Buat yang kemarin tidak sempat menonton SMTOWN, semoga ini bisa sedikit menghibur😀

 

***

“Lisa, kau dimana?”

“Aku disini Tao, ada apa?”

“Ah, akhirnya ketemu.”

“Kenapa? Ada apa kau datang sepagi ini?” Aku memalingkan mukaku dari majalah yang sedang kubaca untuk melihatnya.

“Kau ada acara tidak hari ini?” Tao duduk disofa sebelahku.

“Tidak, hari ini kuliahku libur.”

“Bagus! Kau ingin ikut bersamaku? Hari ini EXO akan berkumpul di hotel tempat kami menginap. Kau mau ikut?”

“Memangnya aku boleh ikut?”

“Haiyaa… Semuanya membawa pasangannya masing-masing.. Masa aku tidak membawamu? Apa perlu kubawa saja adikmu?” Tao tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya.

Aku mengacungkan jari tengahku, “Awas saja kalau kau berani macam-macam pada Siska!”

Tao menyingkirkan tanganku dan menciumku lembut, “Tenang saja, aku tidak mungkin melakukannya karna aku hanya menyukaimu.” Dan akupun tersenyum.

Dia adalah Tao. Kau tau? Ya, Tao! Tao EXO! Dan dia adalah pacarku! Pa-car-ku. Aku? Aku hanya seorang gadis Indonesia biasa yang saat ini sedang menempuh bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa aku bisa menjadi pacarnya Tao. Aku orang Indonesia, sedangkan Tao itu kan orang China. Baiklah, aku akan sedikit menceritakannya kepada kalian.

  • Flashback 3 bulan yang lalu

Zzzttt zzzttt… SMS masuk. Dari temanku, Arin.

Lisa, kamu suka Kpop kan? Mau ikut nonton SMTOWN nggak?

Langsung saja kubalas,

Lisa: Mau!!! Tapi tiketnya kan mahaaal T_T

Arin: Tenang aja! Aku punya free untukmu!

Lisa: Serius?!! Aku mau! Berangkat jam berapa?

Arin: Jam 5 sore aja. Kita naik bus aja ya, qlo bawa kendaraan takutnya susah markirnya.

Lisa: Oh oke deh J

Sorenya, aku bersiap-siap pergi ke acara konser itu. Aku mengenakan kaus merah dengan sweater biru muda, serta jins biru gelap kesukaanku. Tak lupa aku membawa tas ranselku. Kupikir supaya lebih praktis aku lebih nyaman membawa ransel dari pada tas-tas yang lain. Tidak seperti yang dijanjikan, Arin dan temannya menjemputku dengan mobil.

“Lisa!! Ayo masuk! Aku tak mau terlambat!” Teriaknya dari dalam mobil.

“Ya ya.” Akupun masuk kedalam mobil berwarna biru metalik itu.

“Oke kenalan dulu, Lisa ini Fandi, Fandi ini Lisa. Fandi ini temen kampusku Lis.” Arin memperkenalkan laki-laki yang ada di bangku kemudi sebelahnya. Cukup tampan qlo aku bilang. Alis matanya tebal.

Aku menjabat tangan Fandi, “Kau suka Kpop juga?” kataku.

Dia terlihat sedang berfikir, “ Ya sedikit sih. Kita mau jalan sekarang?”

“Tidak, besok saja! Ya sekaranglah! Awas saja kalau aku tidak sempat melihat penampilan Baekhyunnie ku karna kau!” Kata Arin sambil menunjuk Fandi. Aku hanya tertawa mendengarnya.

Arin itu seorang ELF. Dia sangat menyukai SUJU. Kau tahu? Kamarnya penuh dengan poster SUJU! Bahkan ia menaruh poster Kibum dan Yesung di dalam lemarinya! Dia juga suka EXO, terutama Baekhyun. Kalau aku? Aku suka Chen. Suaranya keren!

Kami sampai di GBK 30 menit sebelum konser mulai. Hebatnya Arin, dia memberiku tiket VIP! Dia bilang, tadinya dia niat menonton SMTOWN bersama tantenya, tetapi tantenya punya pekerjaan yang sangat mendesak, makanya Arin mengajakku. Daripada tiketnya terbuang sia-sia katanya. Fandi? Dia membeli tiket sendiri.

Kau tahu tidak? Tadinya aku tidak percaya kalau SMTOWN diadakan di GBK. Kenapa GBK? Apa member EXO akan bertanding sepak bola dahulu melawan SUJU dan SHINee? Kemudian SNSD, f(x), dan BoA akan menjadi cheerleader? Lalu TVXQ dan Kangta menjadi wasit dan hakim garis? Sungguh lelucon yang tidak lucu. Tapi kalaupun mereka benar-benar akan bermain bola dulu, itu pasti akan sangat menghibur. Coba saja kau bayangkan.

Konser malam itu membuat bulu kudukku merinding. Separuh GBK penuh! Sorak sorai, riuh teriakan-teriakan penonton memanggil nama-nama idolanya, dan yang ikut bernyanyi ketika idolanya tampil. Mungkin ini adalah salah satu konser Kpop terbesar yang pernah ada di Indonesia. Konser berlangsung selama 4jam lebih.

Selesainya konser, aku, Arin, dan Fandi tidak langsung keluar GBK. Kami duduk-duduk dahulu. Pintu keluar sangat penuh. Kupikir lebih baik menunggu sampai agak sepi daripada keluar dengan berdesak-desakan. Arin dan Fandi terlihat sangat antusias mengulas konser barusan. Sesekali aku juga mengikuti perbincangan mereka. Langit sangat indah malam itu. Banyak bintang bertebaran.

Kemudian ada yang menegurku, “Mbak, maaf nama mbak siapa? Saya Dini” Orang ini berbicara dengan bahasa Indonesia, tetapi aksennya sedikit aneh.

“Saya Lisa.” Aku menjabat tangannya.

Dia membisikkan sesuatu, “Bisa ikut saya sebentar?”

“Kemana?”

“Backstage.”

Mataku menyipit dan dahiku mengerut. WHAT?! Apa tadi katanya? Backstage? Itu artinya belakang panggung kan? Aku yang pernah memenangkan English speech contest ketika SMP, tiba-tiba jadi seperti orang bodoh.

“Backstage mbak? Apa saya tidak salah dengar?”

“Tidak kok.” Perempuan itu tersenyum melihat kekagetanku.

Aku segera menguasai diriku. “Tunggu sebentar mbak.” Lalu aku pamit kepada Arin dan Fandi yang masih sedang asik mengobrol. Mereka sedikit iri melihatku akan ke backstage. Backstage gituloh!!! Kau tahu, hanya ada beberapa orang saja yang dapat undangan ke backstage. Sedangkan aku? Tanpa undangan aku boleh ke backstage! Rasanya seperti tamu penting!

Aku mengikuti mbak Dini yang ternyata adalah orang Indonesia, tetapi dia sempat tinggal lama di China. Makanya aksen bahasa Indonesianya sedikit aneh.

Dia tidak membawaku ke tempat meet and greet karna kami baru saja melewatinya. Dia membawaku ke sebuah ruang yang kupikir itu adalah ruang kostum karna banyak sekali baju-baju yang tergantung di rak-rak yang tertata rapi.

“Mbak tunggu disini ya. Saya panggil Tao dulu.”

Tao? Kenapa Tao? Tao itu kan member EXO-M yang matanya sadis itu kan? Yang kupikir tadinya vampire nyasar. Dulu kukira pertama kali lihat EXO, mereka hanya bersebelas, karna  yang satu itu aku pikir penampakan vampire atau sejenisnya. Tetapi ternyata dia manusia. Matanya ituloh, kupikir dia lebih cocok main film Twilight dibanding Robert Pattinson. Tanpa make-up saja wajahnya sudah sadis seperti itu. Bagaimana di make-up?

Cklek. Seseorang membuka pintu.

Dia datang. Dia mendekat. Aku mundur, selangkah, dua langkah, tiga langkah.

“Kenapa kau mundur?” Katanya dalam bahasa inggris.

“Dari dekat, kau sungguh menakutkan.” Aku gemetar. Sungguh, wajahnya bukan seperti manusia.

“Kalau begini?” Dia tersenyum. Kubilang lebih seperti senyum licik.

“Lebih menakutkan.”

“Kalau ini?” Dia nyengir. Ya, dia memperlihatkan sederetan giginya yang putih.

Dan aku tertawa. Geli sekali! Wajahnya! Bisa berubah menggelikan seperti itu! Dia vampire yang barusan kan?

“Kenapa kau tertawa?”

“Ekspresi mu lucu!” Aku masih sedikit tertawa, ketika aku berhenti tertawa dan betapa terkejutnya aku ketika melihatnya telah ada didepanku. Refleks, aku mundur dan menabrak rak pakaian dibelakangku. Dengan sigap Tao menarik tanganku dang merengkuh pinggangku sebelum aku terjatuh kedalam rak pakaian itu. Posisi saat itu, Tao setengah memelukku! Ya! Pria tinggi itu memelukku. Hangat. Tetapi aku cepat tersadar dan mendorongnya untuk melepaskan pelukannya.

“Maaf, tadi kau hampir terjatuh.” Katanya.

Kurasa mukaku memerah, “Ya, terimakasih.”

Hening beberapa saat. Aku canggung.

“Ehm, tas itu, kau beli dimana?” Dia memulai pembicaraan, matanya melirik ranselku dengan ragu-ragu.

Tas? Maksudnya ransel ini? “Ini?” Kataku akhirnya sambil melepaskan tasku. Kulihat matanya sedikit berbinar-binar melihat ranselku.

Ia mengangguk cepat seperti anak kecil yang akan diberi permen karna telah meminum obatnya. Melihatnya yang seperti itu aku tersenyum, dan kupikir dia lucu, tidak seperti wajahnya yang menyeramkan.

“Kau mau?” Entah kenapa kata ini yang keluar dari mulutku melihat ekspresinya.

“Boleh untukku?” Dia terpana mendengar kata-kataku.

“Ya, tapi bisakah kau memberiku semacam kantung atau sebagainya untuk menaruh barang-barangku?”

Dia mengambil sebuah tas hitam yang ada di dekat lemari kaca dan mengeluarkan isi tas itu. “Apakah ini cukup?”

“Kurasa cukup.” Aku mendekatinya dan mengambil tas yang dia berikan kemudian memindahkan isi tasku k etas yang dia berikan. “Ini tasmu?” Tanyaku basa-basi.

“Ya, tenang saja, tas ini masih baru.”

“Dan kau mau menukar tas ini dengan ranselku?” Iya menjawab ya. “Kenapa?”

“Motif tas mu lucu, polkadot dengan gambar panda besar didepannya.”

“Tapi tas ini kan sangat kekanak-kanakan..”

“Tapi aku suka.” Dia tersenyum. Dan mengambil sesuatu, “Kau suka Chen?” Dia mengambil kipas bergambar Chen dari dalam tasnya yang diberikan atau lebih tepatnya telah ditukar dengan  tas pandaku.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku suka suaranya!” Kataku antusias.

“Kau mau tandatangannya?” Aku mengangguk. “Berfoto dengannya?”

“Ya aku mau!” Kataku sedikit berteriak. Dan aku cepat-cepat menutup mulutku. Aku malu.

Dia tertawa melihat ekspresiku. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan seperti mengetik sms. Mungkinkah kepada Chen?

Benar saja. Tak lama kemudian Chen datang dengan membawa selembar foto yang sudah ditandatanganinya. Chen menanyakan namaku. Dan dia menulis ‘to Lisa’ pada foto itu. Astaga… Ini seperti mimpi! Aku mendapatkan tanda tangan Chen?!!

Tao mengambil kamera digitalku, ia berbicara dengan chen dalam bahasa China atau korea, yang kupikir artinya adalah, “Dia ingin berfoto denganmu, maukan?”

“Okay, Lisa. Come here.” Kata Chen menarik tanganku agar berada disebelahnya.

Chen memegang tanganku! Astaga, ini benar mimpi!

Jepret! Tao tertawa. “Lisa, mukamu seperti orang bodoh! Tersenyumlah, kau sedang berada disamping Chen sekarang!”

Aku tersenyum. Dan pada jepretan terakhir aku sempat berbisik kepada Chen memintanya mencubit kedua pipiku. Dan ternyata ini bukan mimpi! Aku berfoto lima kali bersama Chen dan hanya satu kali bersama Tao. Lima kali! Dengan Chen! Seperti mimpi bukan?

*

Sesampainya dirumah, hampir pukul satu malam. Aku masih terpana melihat kameraku. Foto-foto dengan Chen masih teringat diotakku. Dan akupun tertidur dengan memegang kamera.

Paginya, aku pusing. Aku pusing mencari-cari dimana ponselku berada. Aku berfikir, dan berfikir. Apa mungkin hilang saat konser? Kupikir tidak mungkin, karna saat itu ada Fandi dibelakangku. Setelah konser aku kan ke backstage, ah indahnya qlo mengingat kejadian itu. Saat itu aku masih memegang ponselku. Apa terjatuh saat itu? Ah aku tidak ingat! Terlalu terkejut dan terpana melihat vampire itu dan Chen! Aku pusing lagi. Lalu aku memutuskan untuk mandi. Mungkin saja otakku akan jernih setelah mandi.

Benar saja. Sehabis mandi ada tamu. Dan tamu itu adalah Chen. Ya kuharap begitu. Tetapi yang datang ternyata mbak Dini. Ia hanya datang menyerahkan ponselku atas suruhan si vampire. Dia tahu alamatku dari sms terakhir temanku. Tenyata mbak Dini mengsms temanku itu menanyakan alamatku. Tapi mbak Dini tidak bisa berlama-lama karna masih harus mengurus kembalinya SM ke Korea hari ini. Aku mengucapkan terimakasih. Dan mbak dini pergi dengan mobilnya.

Kupikir ponselku hilang. Tapi ternyata terjatuh saat bertemu Tao kemarin. Aku jadi menukarkan tas pandaku dengan tas hitam miliknya. Apalah artinya sebuah tas jika aku bisa berfoto dengan Chen. Lima kali!

Zzztttt Zzztttt….

Ada whatsapp masuk ke ponselku. Nomor siapa ini? Bukan nomor Jakarta. Aneh.

Ketika kubuka betapa terkejutnya aku melihat foto Tao sedang nyengir sambil memamerkan tas pandaku. Rambutnya terlihat masih basah. Pantas saja nomor ini serasa asing. Apa ini nomor ponselnya Tao?

Langsung saja kuketik balasan,

Kau terlihat bahagia sekali sepertinya.

Tak lama ia membalas,

Tentu saja aku bahagia. Pandamu lucu sekali! Terimakasih ya!

Lisa: Hahaha ya sama-sama. Kupikir ponselku telah hilang.

Tao: Kau panik?

Lisa: Sangat!

Tao: Untung aku menemukannya. Berterimakasihlah.

Lisa: Oke terimakasih telah menemukan dan juga menyuruh orang mengembalikan ponselku ya Tuan Vampire.

Tao: Vampire?

Lisa: Ya, kau seram. Seperti vampire.

Tao: Kalau begini? *Tao mengirimkan fotonya dengan muka nyengirnya. Seketika aku tertawa.*

Lisa: Hahaha itu seperti anak vampire yang senang karna baru saja diberi minum darah. Hahaha

Tao: Kau horror.

Lisa: Aku?

Tao: Masa tampan begini kau bilang anak vampire.

Seketika aku tertawa lagi dibuatnya. Itu awal mula aku dekat dengannya. Kami hanya ber-whatsapp-an. Kadang ia meneleponku dengan Kakao Talk. Lama-lama aku tidak takut lagi dengan wajahnya. Dia sering bercerita tentang hari-harinya begitupula denganku.

*

Sebulan setelahnya dia mengunjungiku ke Indonesia. Betapa terkejutnya aku melihatnya ada didepan rumahku. Tanpa basa-basi ia berkata, “Maukah kau menjadi pacarku?”

Aku menjawabnya. Aku menyukainya. Ternyata wajah seramnya berbanding terbalik dengan sifatnya yang agak kekanakan tapi juga dewasa. Sore itu terasa sangat indah untukku.

  • Flashback END

Ya, long distance relationship. Dulu kupikir akan menyakitkan, apalagi ini beda Negara. tetapi tidak. Tao membuatku nyaman dengan semua perlakuannya. Aku menyukainya. Selama ini dia sudah mengunjungiku empat kali. Kali ini dalam acara showcase pertama EXO di Indonesia yang akan diadakan lusa malam.

Tao sendiri sudah di Indonesia sejak 3 hari lalu. Sedangkan member EXO yang lain baru saja datang kemarin. Aku kaget ketika Tao bilang bahwa semuanya membawa pacarnya masing-masing pada showcase kali ini. Tao bilang kalau, ‘mereka ingin memperkenalkan pacar-pacarnya dan mereka penasaran pada pacar Indonesiaku yang imut ini’ katanya dengan mencubit gemas pipiku.

“Lisa, kau sudah siap belum?”

“Ya sebentar.” Lalu aku keluar dari kamarku, mengenakan dress selutut berwarna biru muda dengan belt hitam. “Kau kenapa?”

Tao diam. Aku mendekatinya. “Kau kenapa?” Ulangku.

“Kau cantik. Cantik sekali.” Dan akupun tersenyum mendengarnya.

END

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s