FF VIXX | Hakyeon’s Love | part 2

part2

=read Part 1 of Hakyeon’s Love=

Hakyeon POV

Ini sudah hari kedua eomma pergi ke kampung halaman. Sudah dua hari juga rumahku seberisik pasar burung. Nunna Ellin juga rajin memasaki kami makanan enak. Rasanya kebutuhan giziku lebih tercukupi ketika tak ada eomma. Eomma jarang masak sih. Yang lebih sering masak tuh Nunnaku. Aku jadi kangen masakan Nunna. Hiks…

Ini hari minggu. Aku tak tahu apa yang ingin aku lakukan. Semua masih tidur. Hanya Taekwoon saja yang sedang berlatih taekwondo di halaman rumah.

Aku bingung ingin melakukan apa. Aku lalu pergi ke halaman, hendak menyiram tanaman. Tapi baru aku menyalakan air, ponsel ku berbunyi. Dari nomor tak dikenal. Langsung ku angkat.

“Hallo, Hakyeon-ssi? Bisa tolong kau bukakan pintu pagar rumahmu? Aku menelepon Jaehwan oppa tak diangkat. Dia masih tidur ya? Yauda tolong bukakan pintu pagar ya, aku tidak bisa masuk.” Klik. ponselnya ditutup begitu saja.

Aku yakin itu Enyoung. Aku sangat yakin itu suara Enyoung. Maka aku bergegas berlari melemparkan selang yang tadinya ingin kupakai untuk menyiram tanaman, hendak membukakan pintu pagar untung pujaan hatiku.

Tanpa kusadari selang yang sedang menyala itu mengenai Taekwoon yang sedang berlatih taekwondo, aku sedikit mendengar kata makian darinya, tapi tak aku ambil pusing. Pujaan hatikulah yang paling penting.

Enyoung POV

Ah, itu dia Hakyeon-ssi. Dia membukakanku pintu pagar.

“Yang lain belum pada bangun.” Katanya.

“Seperti yang kukira. Kau sudah sarapan Hakyeon-ssi?”

“Belum, Nunna Ellin hari ini berangkat pagi sekali, katanya ada urusan mendadak dikantor.”

“Eonni kekantor? Hari minggu?” Hakyeon hanya mengangguk. “Yasudahlah, ini aku bawakan martabak telur.” Aku memberinya kantung plastik yang kubawa.

“Banyak sekali, sampai 3 kotak?”

“Iya, tadi kebetulan ketemu temen lama yang lagi jual martabak. Aku beli dua eh dikasih tiga. Katanya beli dua gratis satu.”

” Aku baru tau ada tukang martabak yang begitu.”

“Sama, aku juga baru tau.”

Sesampainya didalam kamipun berpisah, Hakyeon-ssi menuju ke meja makan, dan aku menuju kamar Hakyeon-ssi. Terkejutnya aku melihat keempat manusia itu sedang tidur ala gilanya. Hyuk tidur dengan kepala yang hampir jatuh dan kakinya yang sedang dipegang oleh Jaehwan oppa dan diemut jempolnya. Ravi sedang tidur dengan topi yang menutup sebagian kepalanya dengan kaki yang menindih badan Jaehwan oppa. Sedangkan Hongbin tidur dilantai dengan anehnya.

Kupikir laki-laki ini perlu dibangunkan. Maka aku berjalan keluar mencari Hakyeon-ssi.

“Hakyeon-ssi, kau mau lihat sesuatu yang lucu?”

” Apa itu?”

“Bisa tolong ambilkan dua tutup panci?”

Hakyeon-ssi mengambil dua tutup panci yang kuminta. “Kamu mau apa dengan tutup panci ini?”

“Sudahlah, kalau mau lihat ikuti aku.”

Aku berjalan menuju kamar dan Hakyeon-ssi mengikuti dibelakang. Sesampainya dikamar, aku membenturkan kedua tutup panci keras-keras.. Kemudian, keempat makhluk yang sedang tidur bangun, Jaehwan oppa tak sengaja jadi menggigit jempol kaki Hyuk karena kaget. Hyuk meringis meronta ronta karna kakinya digigit dan ia jatuh menimpa Hongbin yang tidur dilantai. Hongbin yang kesal mendorong Hyuk hingga Hyuk terguling kekolong tempat tidur. Sedangkan Ravi tetap tidur, ia tidak merasa terganggu dengan suara berisik yang kusebabkan. Anak satu itu memang kebooooooooo.

Lalu aku mengambil air dari kamar mandi dan menyiramkannya ke Ravi. Kemudian Ravi basah seketika.

“Wa wa ada apa ini? Banjir? Banjir? Banjiiiiiiiir” Ravi bangun dan berlari memutari kamar panik. Dengan sengaja Hakyeon-ssi menyandung kakinya Ravi. Ravi pun terjatuh ketempat tidur dan tertidur lagi.

“Dasar kebo.” Itulah komentar yang kudengar dari Hakyeon-ssi. Tanpa peduli Hakyeon-ssi keluar dari kamarnya.

Hyuk masih mengelus-elus jempol kakinya yang tergigit jaehwan oppa. Hongbin mengambil handuk dan berjalan kekamar mandi. Aku ingin melihat Hongbin dikamar mandi. Sungguh. Tetapi Jaehwan oppa menghampiriku.

“Enyoung, kamu sama siapa kesini? Kenapa tidak bilang aku kalau kau mau kesini? Kan bisa aku jemput..”

“Aku sudah menelepon oppa berkali-kali, tetapi oppa tidak mengangkatnya. Makanya aku kesini saja sendiri. Tuh tadi aku bawa martabak. Ada di…” Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, keempat makhluk itu langsung berlari keluar kamar dengan Hongbin yang berlilitkan handuk keluar dari kamar mandi, dan Ravi yang langsung terbangun dan melesat keluar kamar.

Hakyeon POV

Tadi Enyoung membawa tiga kotak martabak, Sudah kuhabiskan satu kotak. Lalu aku mulai memakan isi kotak kedua. Baru dua potong yang kumakan, Tiba-tiba keempat anak yang sedang kelaparan berlari menghampiriku sambil berteriak “MARTABAAAAAAK”. Spontan aku langsung memegang kotak martabak yang ada didepanku dan membawanya kabur ke halaman.

“Taekwoon, Enyoung bawa martabak nih. Mau tidak?”

Tanpa basa basi dan bilang mau, Taekwoon mengambil kotak martabak yang sedang kupegang dan membawanya duduk di teras. Taekwoon memakannya.

“Taekwoon, kamu pernah suka pada perempuan?” Tanyaku menghapus keheningan.

“Pernah.”

Mataku membulat mendengar jawabannya. “Dengan siapa??”

“Ibuku dan kakak-kakaku.”

“Maksudku bukan itu!!” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Maksudku, apa pernah kamu suka sama perempuan, kaya jatuh cinta gituuu..”

“Oh itu. Tidak. Cinta gak ada apa-apanya dibanding taekwondo.”

Sudah. Cukup. Taekwon memang begitu mencintai olahraganya satu itu. Maka akupun kembali masuk kedalam. Melihat kebo kebo kelaparan yang sedang meronta ronta pada Enyoung minta dibelikan martabak lagi. Spontan aku teriak, “TAK ADA MARTABAK!!!” Kupukul kepala keempat anak itu dengan centong sayur yang ada dimeja makan. “Makanya pada bangun pagi.” Aku melihat Hongbin, “Ini lagi ngapain keluar cuma pake handuk doang?! ga malu apa ada cewek disini? Lo juga! Dibangunin tidur susah banget. Denger martabak aja bangun! Udah cepet lo semua mendingan beresin kamar gue!” Dengan patuh mereka semua balik badan dan kembali ke kamar.

“Hahaha kamu seharusnya gak usah begitu Hakyeon-ssi. Aku senang kok melihat Hongbin seperti itu.” Enyoung tersenyum.

“Hah? Kamu? Hongbin?”

Enyoung tersenyum malu-malu. “Iya, Oppa. Aku suka sama Hongbin. Oppa bisa bantu aku tidak? Bantu aku gimana caranya supaya aku bisa deket sama Hongbin, habisnya kulihat sepertinya dia lebih suka tipe nunna gitu ya?”

END.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s