It’s not a dream || Part 1 || FF VIXX

it's not a dream 1

 

Bella POV

Awalnya aku cuma iseng. sungguh hanya iseng. Aku hanya iseng ketempat ini, Mall baru dikawasan Kuningan jakarta. Tadinya aku hanya sengaja lewat, tapi aku tertarik dengan keramaian yang ada. Ketika aku masuk, tempat ini seperti dunia lain. Ada ice cream besar, Kue, bukit… Ah ada acara apa itu? Ramai sekali. K-pop festival in gangwon 2013… aku membaca poster yang ada didindingnya. Oh ternyata lomba dance cover.. Tidak tertarik aku kembali memutari mall.

Aku naik kelantai atas, ramai sekali. Aku haus. Lalu aku membeli minum di salah satu cafe di mall itu. Aku meminta si pramuniaga mengepak minumanku dengan cup agar bisa kubawa-bawa. Setelah cukup lama berputar-putar, tiba-tiba ada keriuhan dari lantai bawah. Aku melihat dari atas. Itu manusia? Tiga wanita itu seperti boneka. Begitu sempurna. Seperti itukah artis Korea? Kulit mereka putih sekali. Aku yang kata teman-temanku albino saja kalah putih!

Ayahku keturunan Canada dan ibuku asli Indonesia. Jadi tidak heran kalau aku lebih mirip ayahku dengan rambut pirang, tapi aku mengecatnya menjadi cokelat. Tapi artis korea ini sangat putih! Seperti porcelain. Cantik sekali..

Aku berbalik dan kembali berjalan. Tapi tiba-tiba sebuah pintu disampingku terbuka. Seseorang keluar dengan tergesa-gesa dan menabrakku. Orang itu memakai celana putih dan jaket tebal. Ia menumpahkan minumanku. Baju bagian depanku basah. Lelaki itu terlihat kaget, ia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Sadar kalau aku tidak mengerti apa yang dikatakannya, dia lalu mengeja toilet. Tadi aku sempat ke toilet, jadi aku tau dimana letak toilet. Lalu aku menyuruhnya untuk mengikutiku dengan bahasa inggris.

Sesampainya didepan toilet, ia menyuruhku untuk masuk kedalam. Aku masuk dan membersihkan bajuku yang putih, tapi apa daya, minumanku yang berwarna cokelat tidak bisa hilang. Sadar usahaku sia-sia, aku keluar dari toilet. Lelaki itu masih menungguku. Ia melihatku lalu membuka jaketnya. Ia memakai dua jaket?! Apa tidak panas? Lalu Ia menyodorkan jaketnya padaku. Aku berusaha memakainya tetapi dia menahanku. Lalu ia menunjuk bajuku, jaketnya dan toilet sambil berkata,

“you this wear there..”. Oh, jadi maksudnya aku disuruh ganti bajuku dengan jaket ini di toilet. Tak lama aku keluar dari toilet sudah mengenakan jaketnya dan berusaha melipat bajuku yang basah. Tetapi dia mengambil bajuku dan membuangnya ketempat sampah. Spontan aku marah dan mengomel dengan bahasa inggris. Tetapi dia hanya terus berjalan sambil menarik lenganku.

Ia menarikku menuju ruangan tempat tadi dia keluar dan menabrakku. Ia mengajakku masuk. Aku terkejut. Didalam ruangan itu setiap orang sibuk. Ada yang sibuk menata rambut, make up, dan segala macamnya. Lima orang berpakaian sama, putih-putih. Ah, jangan-jangan mereka ini mau ikut lomba dance cover di lantai bawah tadi? Tapi mereka terlihat terlalu sempurna. Apa mereka ini artis? Eh, tiba-tiba lelaki yang tadi menabrakku melepas jaketnya. Ia mengenakan seragam yang sama dengan kelima orang itu. Apa ia juga artis. Spontan aku bertanya padanya apa dia juga artis, tetapi dia hanya tersenyum mendengarnya. Ia mengalihkan pandangannya dariku dan memanggil seorang wanita kemudian menunjukku, wanita itu hanya mengangguk-angguk dan berjalan kearahku.

“Sore, apakah kau bisa menunggu disini sebentar?”

“Ah kau bisa bahasa indonesia? Kupikir aku akan mati bingung disini mendengar percakapan orang-orang yang tak kumengerti.” Keluhku.

Wanita itu tertawa, “ohahaha, kenalkan saya Sally.”

“Saya Bella” akupun menjabat tangannya, “hmm btw orang yang tadi membawaku kesini itu siapa ya?”

Wanita itu terlihat kaget, “kamu tidak tahu dia?” aku menggeleng, “Dia itu Taekwoon, salah satu personil VIXX.”

“VIXX itu apa?” Tanyaku lagi.

“Boyband korea. Mereka baru setahun debut.”

“Oooooh” hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku, “eh tapi untuk apa aku disuruh menunggu disini?”

“Oh itu untuk pastinya aku sih tidak tahu. leo hanya menyuruh ku memberitahumu untuk menunggu di ruangan ini sampai dia selesai acara.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Leo? Siapa Leo?”

“Ah Leo itu nama panggunganya Taekwoon”

Aku menggeleng, “Namanya seperti keripik kentang.” Sally tertawa mendengar perkataanku.

Waktu berselang, sekitar 3 jam sejak ruangan ini sepi dan aku masih menunggu disini. Sesekali orang-orang silih berganti masuk dan keluar dari ruangan ini. Entah kenapa aku terus menanti. Karena bosan aku berjalan ke toilet aku ingin mencuci mukaku dan sedikit melepas kebosanan. Sekeluarnya dari toilet aku kaget. Leo telah ada didepanku. Mengenakan jaket dan masker yang menutupi separuh mukanya. Tangannya memegang sebuah kacamata. Dia menurunkan maskernya sedikit.

“What are you doing here?” Tanyanya.

Apa yang kulakukan disini? Ditoilet? Memang menurut dia apa yang bisa dilakukan wanita di toilet? Makan? Silat? Dasar manusia ini.

“Sleeping.” Jawabku sekenanya.

“Are you sleepy?”

Ini manusia serius banget ya. Ga ada selera humor nya. Ckck. “No, I’m just kidding.”

/Dear readers, selebihnya percakapan mereka menggunakan bahasa inggris ya/

“Oke, qlo gitu ikut aku.”

Lalu Leo manusia tidak jelas itu menarik tanganku. Ia menaikan maskernya dan memakai kacamatanya. Mungkin ia sedang menyamar.

“Kita mau kemana?”

“Apa kamu harus pulang?” Leo tiba-tiba berhenti berjalan dan aku nyaris saja menabraknya.

“Tidak. Aku tinggal sendiri.” Setahun yang lalu orang tuaku bercerai. Dan aku lebih memilih untuk tinggal sendiri. Ayahku lalu membelikanku sebuah apartemen dikawasan jakarta timur. Ibuku seorang designer pakaian dan sekarang ia menetap di Jerman. Sedangkan ayahku kembali ke negara asalnya di Canada.

“Bagus!”

Tak lama aku melihat 5 temannya yang lain. Mereka mengenakan baju santai dengan kacamata dan topi yang sedikit menyamarkan mereka. Kasian ya jadi artis harus nyamar mulu. Mereka berbicara sesuatu dengan bahasa yang tidak kumengerti. Lalu Leo memperkenalkan teman-temannya itu padaku.

Satu yang berambut merah memperkenalkan dirinya. Namanya N. Just it? Aku bertany seperti itu tapi dia malah menanyakan tahun kelahiranku. Aku jawab, 1996. Mendengar jawabanku ia terlihat senang dan bilang, “oke kamu boleh panggil aku Hakyeon oppa, nama asliku Hakyeon :)”

“Oppa? Apa itu?”

“Ah, di korea, oppa itu panggilan anak perempuan kepada kakak laki2.”

“Haruskah?” Tanyaku lagi.

“Harus! Wajib!”

“Hyung! Kau terlalu lama! Ah Bella kenalkan aku Hyuk. Aku yang paling muda diantara mereka. Kita beda setahun loh.” Anak yang bernama Hyuk ini terlihat sok akrab. Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul pundakku. “Nah yang ini namanya Ravi, Ken, dan ini Hongbin.”

Mataku melihat mereka satu persatu. Ketika melihat lelaki yang bernama Hongbin itu. Spontan aku bilang, “Tampannya…” dan mereka tertawa. Muka hongbin terlihat memerah. Apa dia malu? Aaaih lucunya ><

“Sudah sudah. Jadi mau gak nih?!” Leo menenangkan tawa yang lain.

Hakyeon berbicara, “Bella, gini… Kamu kesini bawa kendaraan tidak?”

“Bawa.”

“Ah, kata Leo kamu tinggal sendiri? Emmm bisa kita tinggal dirumahmu?”

Ha? Mau apa mereka ini? “Tidak.” Jawabku.

“Ah Bella, kita tidak akan macam-macam kok. Kita cuma mau menginap beberapa hari saja tanpa ada pekerjaan yang mengejar kita. Kita sumpek banget Bel, kita mau libur dari kerjaan kita. Kita nginap dirumah kamu ya Bel? Plis…” Hakyeon membujukku sambil memegang tanganku, matanya memohon seperti anak anjing yang belum dikasih makan.

“Ah baiklah. Tapi hanya tiga hari!”

“Ya! Terima kasih Bella! Cup!” Hakyeon mencium pipiku.

“Apa yang kau lakukan?!” Aku menginjak kakinya dan mencubit lengannya sekeras yang kubisa. Hakyeon kesakitan. Dirinya mundur dan menikmati rasa sakitnya.

Laki-laki yang kubilang tampan tadi menendang Hakyeon dan bertanya padaku, “Bella, tadi kau bilang kau bawa kendaraan kesini? Kau naik mobil atau…?”

“Aku bawa mobil kok.”

“Apa cukup untuk kita semua?” Tanyanya lagi.

“emm sepertinya sih cukup. Kalian mau kabur sekarang atau lusa?”

“Tentu saja sekarang!” Teriak Hakyeon yang membuat orang-orang menoleh. Orang-orang mulai berbisik-bisik.

“Ah sial! Ayo pergi sekarang!” Leo menarik tanganku kami semua berlari menuju lift terdekat. Kebetulan ada lift yang terbuka. Lelaki yg bernama Ravi langsung memencet tombol lift agar pintu lift tidak tertutup. Kamipun memasuki lift, pada saat itulah ada yang berteriak VIXX VIXX dengan histeris. Untungnya pintu lift langsung tertutup. “Kamu parkir di lantai mana?”

“Ah aku lupa. Tapi sepertinya disini.” Aku memencet tombol P2 di lift. Pintu lift terbuka. “Ah itu dia mobilku.” Aku mengambil kunci mobil, membuka kuncinnya dan,

“Boleh aku yg menyetir?” Lelaki yang bernama Ken ingin menyetir.

“Oke.” Aku memberinya kunci mobilku. Ken mengambilnya. Ia lalu berjalan ke sisi kiri mobil. “Kau mau ngapain? Setirnya sebelah kanan.”

“Ah, stir kanan?” Ken terlihat kaget.

“Iya. Di negaramu sebelah kiri ya?”

“Iya.” Ken lalu berpindah ke sisi kanan.

“Sudahlah sini aku yang menyetir.” Aku berusaha mengambil kunci mobil ditangan Ken.

“Tak usah. Aku saja. Sudah lama aku ingin mencoba menyetir disebelah kanan.”

“Yakin kau bisa?” Belum sempat ken menjawab Hongbin menarik tanganku menuju sisi kiri mobil.

“Sudahlah, Ken itu jago bawa mobil. Kau duduk saja beri tahu dia jalan ke rumahmu.” Hongbin setengah berbisik kepadaku dan membukakan pintu mobil bagian depan untukku.

Setelah aku masuk Ken dan lainnya juga masuk ke dalam mobil.

“Ayo cepat Hyung! Nanti kita ketauan!” Hyuk berbicara pada siapa itu Hyung aku tak tahu.

Tetapi Ken menyahut, “oke. Bella, tunjukin jalannya!”

Pas mobil kami berjalan, para abg abg yang kukira fans nya VIXX keluar dari lift sambil meneriakan nama-nama personil VIXX. Beruntunglah tidak ada yang sadar kalau VIXX ada didalam mobil yang baru saja melewati mereka. /fiuh/

Akhirnya kami berhasil keluar dari kawasan mall itu. Aku menunjukan jalan pada Ken. Rasa penasaranku masih ada, maka aku bertanya pada Ken.

“Ken, itu si Hyuk dari tadi manggil siapa sih? Disini kan gak ada yang namanya Hyung?”

“Ha?” Mendengar pertanyaanku tak hanya Ken, semua yang ada di mobil tertawa bersamaan.

“Kau lucu Bella! Hyung itu nama panggilan adik laki-laki kepada kakak laki-laki.” Hakyeon menjelaskan.

“Loh? Tadi bukannya kau bilang oppa?” Tanyaku lagi.

Hakyeon tertawa, “Bella, kalau oppa itu dari adik perempuan ke kakak laki-laki, sedangkan hyung untuk adik laki-laki ke kakak laki-laki”

“Ooh gitu ya N.”

“Apa kau bilang? Panggil aku Hakyeon oppa! Aku lima tahun lebib tua darimu!” Marah Hakyeon.

“Ah tidak. Terlalu panjang. Hakyeon saja.” Sahutku.

“Kau ini.!” Hakyeon hendak mencubitku, tetapi sebelum dia mencubit aku menengok kebelakang, padanya.

“Itu panggilan di Korea kan?”

“Iya.”

“Yasudah. Berarti tidak berlaku disini. Ini Indonesia. Ingat itu!” Ya. Aku menang. Hakyeon terlihat pasrah mendengar perkataanku.

“Ah, lalu apa sebutan untuk kakak laki-laki disini?” Ravi terlihat penasaran.

“Emm, abang, kakak, mas, aa, kalian mau dipanggil yang mana? Hahaha” jawabku. Aku lucu membayangkannya.

Hyuk berbicara, “berarti abang Haykyeon? Kakak leo? Mas Ken? Aa Ravi?”

“Wait, abang Hakyeon? Terdengar luci ya. Abang?” Ken menyambung percakapan kami.

Tanpa berkomentar apa-apa aku tertawa. Lalu aku kembali melihat jalan. “Ah, Ken didepan belok kiri…. nah gedung ini masuk. Aku tinggal di apartemen ini.”

Sesampainya di apartemenku aku bingung. Mereka berenam ini mau ditaruh dimana. Di apartemenku cuma ada dua kamar. Satu kamarku, satu lagi kamar tamu yang memang jarang sekali ditempati. Paling hanya kalau ada teman-temanku yang datang menginap.

“Ah kalian mau ganti baju tidak?”

“Memang ada? Jangan suruh aku pakai bajumu!” Ucap Hakyeon.

Aku berjalan menuju kamar tamu. Kalau tidak salah disini ada baju Willy, sepupuku. Sepupuku itu memang terkadang suka menginap disini. Dia 4tahun lebih tua dariku. Ah ada! Aku lalu membawa 6 pakaian untuk mereka. Mereka mengambil pakaian satu persatu.

“Ah, kalian bisa ganti di kamar itu-aku menunjuk kamar tamu- atau di kamar mandi sebelah sana.”

“Leo, ambil ini.” Hakyeon melemparkan pakaian padanya. Leo menangkapnya dengan sigap. “Ganti dengan itu. Apa kau tidak gerah memakai pakaian panggung terus?”

Hakyeon dan yang lainnya menuju kamar tamu. Sedangkan Leo tidak.

“Bella, kamu ada coffee?” Tanya Leo.

“Ah ada.” Aku menuju pantry dan membuka laci, “ini. Kau ingin dibuatkan atau…”

“Aku bikin sendiri saja.”

Hening. Lalu aku mengambil susu di kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. “Kau ingin pakai susu? Atau creme? Ini susunya, cremenya ada di laci atasmu.”

Leo mengambil creme, “ah Bella, terima kasih ya sudah membolehkan kami menginap disini.”

“Iya sama-sama.”

“Sejujurnya kami pingin banget berlibur. Tapi schedule kami tidak memungkinkan. Makanya kami gunain cara ini. Untung aja tadi aku nabrak kamu. Hehe”

Leo tersenyum! Ah tapi tetap Hongbin lebih tampan.

“HYUUUUNG! Aku mau hyung!! Kau bikin apa hyung?” Ken yang keluar dari kamar langsung berlari menghampiri kami di pantry.

“Mau kopi?” Tanya Leo.

“Ah tidak. Kupikir kau masak ramyun hyung. Bella, apa kau punya mie instan? Aku lapar Bella..” Mata ken tertuju padaku.

“Ya tentu saja ada. Itu makananku sehari-hari.” Aku menuju laci paling kiri di pantry.

“Wow, kau suka mie instan?” Aku mengangguk, “sama! Aku juga suka banget! Tapi sejak jadi personil VIXX aku jarang makan mie instan. Soalnya kata manajernim itu tidak bagus untuk kesehatanku. Tapi kadang ketika malam aku suka kabur dari dorm dan membeli mie instan.. hehe..”

“Kau ingin rasa apa Ken? Ada rasa bakso, ayam bawang, rendang, Kaldu ayam, soto ayam, kau mau yang mana?”

“Wah banyak varian rasanya ya disini? Yang paling enak yang mana?”

“Aku sih suka rasa bakso. Eh tapi kamu mau nyoba rasa rendang gak? Aku jamin rasa ini enggak ada di Korea.”

“Ah mau!” Jawab Ken antusias. Aku mengambil panci hendak memasaknya, “ah Bella, sini aku bikin sendiri saja.”

“Hyung! Kamu bikin apa hyung! Aku mau dong?” Hyuk keluar dari kamar. Hakyeon dan Hongbin mengikuti dari belakang.

“Mie instan. Mau?” Jawab ken.

“Mau hyung!”

“Bikinkan aku sekalian ya Ken.” Hakyeon menyuruh Ken.

“Leo hyung minum apa?” Kali ini Hongbin.

“Coffee.”

“Bisa bikinin aku hyung? Coffee buatanmu kan enak sekali.” Rayu Hongbin. Tanpa berkata apa-apa Leo membuatkan coffee untuk Hongbin.

“Ravi mana?” Tanyaku.

“Tadi sehabis berganti pakaian ia langsung jatuh tertidur dikamar.” Jawab Hakyeon.

“Ooo, oia karna di kamar itu pasti tidak muat untuk kalian berenam tidur, dibawah tempat tidur ada kasur lipat yang bisa kalian pakai untuk tidur. Terserah mau kalian taruh dimana. Aku ngantuk. Tidur duluan ya.”

Kemudian aku masuk kekamar dan tidak ingat apa-apa lagi. Yang kuingat hanyalah, kalau aku sedang bermimpi dikelilingi enam bidadara yang menemaniku hari itu.

-To be continued-

15 Comments

  1. Annyeong~ VieLli imnida, bangapseumnida ^^
    Chinguya, belum update part 2nya kah? Aku suka sm ffnya, lucu dan kebayang deh jd Bella yg beruntung banget bisa deket2+interaksi+seatap sm member VIXX. Gee! serasa terbang dn dunia cuma milikku, mungkin😄
    Aku critanya gak sengaja cari2 ff VIXX dn nemuin wp chingu🙂 Oke, ide cerita ffnya gak ketebak, bahasa yg dipakek jg uda lumayan, penulisan jg oke. Intinya uda bagus dn enggak terduga.
    Ayo chingu dilanjuuuuuut~ ^0^)9

  2. iya serius deh😀 aku sampek senyum2 sendiri ngebayangin aku yg jd Bella😄
    eh jd pas VIXX kesini itu chingu liat? serius liat VIXX langsung?😮 aah~ iri iri iri deh pokoknya sm chingu X()
    oke2 ayo lekas dipost yak, keep write ^0^)9

    • Maaf chingu, ini ff aku buat sendiri loh. Mungkin alurnya sama, tapi serius ini aku yang bikin. Waktu itu setelah nonton VIXX di lotte kuningan aku kebawa mimpi kaya gini. ini ff ada part 2 nya. dan belom lanjut lagi karna aku lagi sibuk skripsi. Kalo boleh tau kamu baca ff kaya gini dimana emangnya?

  3. hola chingu…
    chan imnida, 98line salam kenal~
    suka ficnyaa:3
    yah sayang waktu vixx ke indo aku belum suka vixx T.T
    chingu beruntung ya bisa liat vixx langsung..huaaa…
    ditunggu next chapnya..
    keep writing!

  4. hola chingu…
    chan imnida, 98line salam kenal~
    suka ficnyaa:3
    feelnya dapet loh:3
    yah sayang waktu vixx ke indo aku belum suka vixx T.T
    chingu beruntung ya bisa liat vixx langsung..huaaa…
    ditunggu next chapnya..
    keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s