It’s Not A Dream | part 4 || FF VIXX

Semuanya sedang  berada di ruang tengah menonton TV.

Bella POV

“Oppa kok bisa kesini? Bukannya lagi sibuk?”

“Kata siapa aku sibuk? Karena progress latihanku bagus, aku dikasih libur satu minggu! Makanya kesini mau jemput kamu. Eh malah banyak makhluk2 ini.”

Aku tertawa.

“Eh tapi kenapa VIXX bisa ada di apartemen mu sih?”

Semua diam.

“Jadi gini, aku…” Continue reading

Advertisements

It’s Not A Dream | part 3 || FF VIXX

Ken POV

“Waaah ramyun Indonesia banyak jenis nya ya… Ah! Ini kan yang kumakan kemarin dirumah Bella!” Lalu aku mengambil ramyun itu dan memasukkannya ke keranjangku. “Waah ini ada lagi! Tom..yam? Oh Bulgogi? Hyuk! Ini ada ramyun bul.. Loh, Hyuk dimana? Hakyeon hyung? Bella? Loh kok pada gak ada? Jangan-jangan mereka tersesat??”

Aku panik. Aku memasukan beberapa bungkus ramyun bulgogi Indonesia kekeranjangku dan berusaha mencari mereka. Gimana ini mereka tak ada. Ah! Telepon!

-nomor yang ada tuju sedang berada diluar jangkauan- ah sial. Oh ya, katalk!

“Jaehwan! Kau dimana?!” Teriak Hakyeon begitu katalk diangkat.

“Aku di… ah Continue reading

[JELLY GIRL] intro || FF VIXX

CHA NANANamanya NANA. Dia adalah leader dari Jellily, kelompok yang paling terkenal di SMA Jelly Fish. NANA berambut merah. Meskipun leader, tinggi NANA yang paling pendek diantara lima member lainnya. Nana juga yang paling ‘cokelat’ diantara yang lain. NANA anak yang sangat agresif dan cerdas. NANA sempat dekat dengan Renyoung, anak basket yang juga banyak penggemarnya. NANA juga pernah dikejar-kejar sama GeLin, anak klub panahan yang katanya cinta mati sama NANA. Tapi karna putus asa cintanya selalu ditolak oleh NANA, GeLin sekarang masuk rumah sakit jiwa. NANA juga merupakan penggila Banana Uyu.
Continue reading

It’s not a dream || part 2 || FF VIXX

it's not a dream 2

Bella POV

Paginya, ketika aku membuka pintu aku terpana sejadinya. Ada enam koper besar di dalam apartemenku. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Hanya aku.

Ah tunggu. Semalam kan ada enam lelaki yang menginap disini. Tapi, kemana mereka? Kenapa yang ada malah koper-koper ini? Apa mungkin mereka berubah menjadi koper? Ah! Mana mungkin! Aku kemudian mengecek kamar tamu yang mereka tempati, tetapi tidak ada siapa2. Tetapi didepan tv kulihat ada sebuah handycam lengkap dengan treepotnya. Penasaran aku melihat isi handycam itu. Ada satu rekaman yang baru direkam hari ini sekitar 2 jam yang lalu. Berarti sekitar jam 5 pagi ini. Kubuka rekaman itu.

Hakyeon: Vi, kekananan gw ga keliatan!
Hyuk: Kirian dikit hyung! Badan gw separoh!
Ravi: Berisik deh! Makanya merapat! Continue reading

It’s not a dream || Part 1 || FF VIXX

it's not a dream 1

 

Bella POV

Awalnya aku cuma iseng. sungguh hanya iseng. Aku hanya iseng ketempat ini, Mall baru dikawasan Kuningan jakarta. Tadinya aku hanya sengaja lewat, tapi aku tertarik dengan keramaian yang ada. Ketika aku masuk, tempat ini seperti dunia lain. Ada ice cream besar, Kue, bukit… Ah ada acara apa itu? Ramai sekali. K-pop festival in gangwon 2013… aku membaca poster yang ada didindingnya. Oh ternyata lomba dance cover.. Tidak tertarik aku kembali memutari mall.

Aku naik kelantai atas, ramai sekali. Aku haus. Lalu aku membeli minum di salah satu cafe di mall itu. Aku meminta si pramuniaga mengepak minumanku dengan cup agar bisa kubawa-bawa. Setelah cukup lama berputar-putar, tiba-tiba ada keriuhan dari lantai bawah. Aku melihat dari atas. Itu manusia? Tiga wanita itu seperti boneka. Begitu sempurna. Seperti itukah artis Korea? Kulit mereka putih sekali. Aku yang kata teman-temanku albino saja kalah putih!

Ayahku keturunan Canada dan ibuku asli Indonesia. Jadi tidak heran kalau aku lebih mirip ayahku dengan rambut pirang, tapi aku mengecatnya menjadi cokelat. Tapi artis korea ini sangat putih! Seperti porcelain. Cantik sekali..

Aku berbalik dan kembali berjalan. Tapi tiba-tiba sebuah pintu disampingku terbuka. Seseorang keluar dengan tergesa-gesa dan menabrakku. Orang itu memakai celana putih dan jaket tebal. Ia menumpahkan minumanku. Baju bagian depanku basah. Lelaki itu terlihat kaget, ia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Sadar kalau aku tidak mengerti apa yang dikatakannya, dia lalu mengeja toilet. Tadi aku sempat ke toilet, jadi aku tau dimana letak toilet. Lalu aku menyuruhnya untuk mengikutiku dengan bahasa inggris.

Sesampainya didepan toilet, ia menyuruhku untuk masuk kedalam. Aku masuk dan membersihkan bajuku yang putih, tapi apa daya, minumanku yang berwarna cokelat tidak bisa hilang. Sadar usahaku sia-sia, aku keluar dari toilet. Lelaki itu masih menungguku. Ia melihatku lalu membuka jaketnya. Ia memakai dua jaket?! Apa tidak panas? Lalu Ia menyodorkan jaketnya padaku. Aku berusaha memakainya tetapi dia menahanku. Lalu ia menunjuk bajuku, jaketnya dan toilet sambil berkata,

Continue reading